header-int

SEMINAR INTERNASIONAL, DEKAN SYARIAH SUARAKAN MAQASHID SYARIAH SEBAGAI METODE IJTIHAD

Kamis, 22 Jul 2021, 05:48:50 WIB - 419 View
Share
SEMINAR INTERNASIONAL, DEKAN SYARIAH SUARAKAN MAQASHID SYARIAH SEBAGAI METODE IJTIHAD

Dekan Fakultas Syariah, Prof. Dr. M. Noor Harisudin, M.Fil.I didapuk menjadi salah satu nara sumber seminar Internasional dengan tema “The Implementation of Maqashid Sharia in Socio-Economical Dimension” (17/7). Seminar ini diselenggarakan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri ar-Raniry Aceh dan Shafaz Capital Jakarta. Dalam kesempatan itu, nara sumber lain. Prof. Dr. Shidiq Armia, Ph.D (Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN ar-Raniri Aceh), Datuk Nik (Universiti Kebangsaan Malaysia), M. Syauqi bin Armia (CEO Shafaz Capital), dan Syaikh Muhamad Ibrahim al-Qutaibi (Ummul Qura University Mekah). 

Prof. Haris menyampaikan orasinya dengan judul “Tanfidz Maqashid as-Syariah fil Mu’amalat al-Mu’ashirat”. Dalam paparan materi yang berbahasa Arab, Sekretaris Forum Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia itu memberikan catatan penting akan kehadiran maqashid syariah sebagai metode ijtihad berbagagi problematika fiqh muamalah kontemporer. 

Sebelumnya, Prof. Haris menjelaskan maqasid syariah. “ Maqashid sharia terdiri dari dua kata. Kata maqasid dan kata syariah. Maqashid artinya tujuan. Syariah artinya jalan. Secara istilah, maqasyid syariah adalah tujuan dan rahasia yang telah ditetapkan oleh Allah dalam setiap hukum dari beberapa hukumnya”, ujar Prof. Haris yang juga Ketua Umum Asosiasi Penulis dan Peneliti Islam Nusantara Seluruh Indonesia. 

Sebagaiman dikatakan Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah dalam Kitab I’lam al-Muwaqi’in, bahwa, syariat Islam itu didasarkan pada kemaslahatan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Syariat itu adalah keadilan, kasih sayang, hikmah dan kemaslahatan. “ Sesuatu yang mengandung pokok ini (keadilan, kasih sayang, hikmah dan kemaslahatan: red), maka itu maslahah. Dan yang bertolak belakang dengan ini, maka itu namanya mafsadah. Contohnya puasa. Kalau ada puasa yang membuat madlarat—misalnya sakit atau bahkan meninggal, maka tentu itu bukan syariat. Karena tidak ada puasa syariat yang membuat madlarat. Sebaliknya, puasa syariat pasti akan memberi manfaat dan maslahah bagi manusia”, ujar Prof Haris yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember. 

Maqasid syariat, mengutip dari Imam Ghazali, lanjut Prof Haris, bahwa maqashid shariah itu ada yang tingkatannya dlaruriyat, tingkatan hajiyat dan tingkatan tahsiniyat. “Di samping itu, domain maqashid Syariah adalah hifdzu ad-din (memelihara agama), hifdz an-nafs (memelihara jiwa), hifdz al-mal (memelihara harta), hifdz al-aql (memelihara akal) dan hifdz an-nasl (memelihara keturunan). Global dan detail syariat senantiasa mengacu pada lima hal yang juga sering disebut dengan ad-dlaruriyatul khams”, tukas Prof Haris yang juga Wakil Ketua Pengurus Wilayah Lembaga Dakwah NU Jawa Timur.    

Selain sebagai goal (tujuan), maqashid juga dapat digunakan sebagai metode ijtihad terutama untuk memecahkan problematika di masa sekarang. Apalagi fiqh mu’amalah memiliki karakteristik yang lebih elastis dalam hukum Islam. “ Dalam berbagai penelitian, fiqh mu’amalah memiliki kaidah-kaidah fiqh misalnya pada dasarnya mu’amalah itu boleh sehingga ada dalil yang mengharamkan”, tukas Ketua Pengurus Pusat Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara-Hukum Administrasi Negara (PP APHTN-HAN) tersebut. 

Sementara maqasid syariah dalam mu’amalah adalah menjaga tujuan mukallaf dan berputarnya kekayaan secara merata di kalangan manusia alias tidak hanya di kalangan orang-orang kata saja. “ Selain itu, juga memberi kepemilikan, tidak ada penimbunan, mencegah penipuan dan memastikan hak-hak bagi pemiliknya”, jelas Prof Haris yang telah melakukan berbagai penelitian dan pengabdian masyarakat di berbagai negara seperti Taiwan, Australia dan Saudi Arabia.     

Dalam pandangan Prof Haris, semua transaksi yang ada dimasa sekarang –termasuk yang lagi hangat yaitu Cripto--dikembalikan pada maqashid syariah dalammu’amalah. Selain itu, juga didasarkan pada kekhasan dan juga prinsip-prinsip mu’amalah. Demikian juga, pada kaidah-kaidah fiqhiyah dan dasar-dasar akad dalam mu’amalah. “Dengan menggunakan maqashid syariah, problem apapun dalam fiqh mu’amalah akan terjawab dengan baik, kapanpun dan dimanapun”, tukas Prof Haris yang juga Ketua Komisi Pengkajian, Penelitian dan Pelatihan MUI Jawa Timur tersebut. ***   

 

 

Reporter: Wildan Rofikil Anwar

Editor: M. Irwan Zamroni

Unidha Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri terkemuka di wilayah tapalkuda, IAIN Jember terus berbenah untuk menjadi Universitas Islam Negeri pertama di wilayah tapalkuda. Berbagai sarana dan prasana pendidikan , Mahad dan Gedung Dosen yang megah telah telah di resmikan oleh Menteri Agama RI di awal tahun 2017
© 2021 INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER Follow INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER : Facebook Twitter Linked Youtube